1 Januari 2013: Hari Pertama Berlakunya Kode Etik Guru Indonesia

REP | 02 January 2013 | 13:11 Dibaca: 1670   Komentar: 0   2 aktual

 

 

1357102701680711324

capture from abbah.yolasite.com

 

http://edukasi.kompasiana.com/2013/01/02/1-januari-2013-hari-pertama-berlakunya-kode-etik-guru-indonesia-520830.html

 

Liburan semester dan akhir tahun, masih berlangsung, guru dan siswa masih libur, mereka akan berkumpul di Sekolah pada 7 Januari 2013. Selanjutnya, interaksi guru-murid, siswa, pelajar – pendidik-pseserta didik, akan terulang seirama dengan kalender pendidikan/akademik.

Karena adanya interaksi tersebutlah, sejak masa lalu, seringkali memunculkan hal-hal yang tak berhubungan dengan proses belajar mengajara; dan tak sedikit (yang sering disebut) yang tak patut sebagai orang guru atau pun pendidik. Dan itu, cenderung menimbulkan konflik antara guru – peserta didik dan orang tuanya ataupun antara gur dengan mereka yang bukan guru.

Pada sikon konflik tersebut, seringkali, guru dituduh telah melanggar atau bertantangan dengan kode etik profesi guru; lalu, di mana atau bunyi Kode Etik Guru tersebut!?

Ya … banyak orang (guru, dosen, orang tua, aparat keamanan, penegak hukum, dan lain sebagainya) omong dan bicara tentang Kode Etik Guru (Indonesia), namun mereka tak mempunyai rujukan atau tak tahu isi dan bentuknya.

Sejak masa lalu, di Nusantara ada NKRI, baru 25 November 2012 yang lalu, ada apa yang disebut Kode Etik Guru Indonesia (jika anda belum miliki, maka klik dan download Kode Etik Guru Indonesia); Kode Etik yang merupakan hasil kerja atau produk Dewan Kehormatan Guru Indonesia (DKGI) .

Dengan demikian, terhitung mulai, 1 Januari 2013,

    • semua pelanggaran guru yang  berhubungan dengan profesi guru (di/dalam kelas, lingkungan sekolah, yang masih ada hubungan dengan/berkaitan dengan hubungan guru-murid – murid-guru, proses berlajar-mengajar, serta hal-hal yang bisa dikategorikan sebagaihubungan guru-nurid – murid-guru), maka harus dilaporkan ke ke/pada Dewan Kehormatan Guru Indonesia (DKGI)

 

    • perselisihan antara masyarakat dengan guru terkait profesi guru, maka harus dilaporkan ke ke/pada Dewan Kehormatan Guru Indonesia (DKGI).

 

  • jika kesalahan/pelanggaran yang dilakukan guru tak berhubungan dengan  profesi guru, misalnya narkoba, pembunuhan, hingga teroris, atau pelanggaran hukum lainnya, maka polisi langsung memproses tanpa melewati DKGI; DKGI kabupaten – kota.

Selanjutnya, DKGI menjalankan proses penegakan kode etik hingga tahap persidangan; hasil dari persidangan, bisa berujung pemberian sanksi, sanksi administrasi, kepegawaian, hukum pidana; masing-masing sanksi (kategori ringan, sedang, berat), ditetapkan berdasar keputusan DKGI.  Jika putusan sidang di Dewan Kehormatan Guru Indonesia (DKGI ) menjatuhkan vonis atau pun sanksi, yang nyata-nyata melanggar hukum (yang berlaku di NKRI), maka diserahkan ke pihak kepolisian; guru juga memiliki hak banding atas putusan tersebut.

Berlakunya (mulai 1 Januri 2013) Kode Etik Guru Indonesia tersebut, maka diharapkan, masyarakan umum (dan juga aparat keamanan) tidak cepat bertindak (yang bersifat) merugikan guru (bahkan melaporakan ke penegak hukum), sebelum memahami persoalan yang sebenarnya.

Jika, para guru (dituduh dan mendapat tuduhan, sebagai orang yang bersalah ketika) melakukan tindakan tegas dalam rangka mendidik peserta didik (yang bandel, keras kepala, bahkan kurang ajar), tak bisa langsung dituduh sebagai tindak dan tindakan kekerasan guru terhadap peserta didik atau anak didiknya. Semuanya itu, ada wadah yang menilainya, yaitu Dewan Kehormatan Guru Indonesia (DKGI ); DKGI yang akan menindaklanjuti persoalan tersebut.

Semoga ….

 

1357102701680711324

capture from abbah.yolasite.com

KODE ETIK GURU INDONESIA

======

===

Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Kompasianer (anggota Kompasiana) yang menayangkannya.Kompasiana tidak bertanggung jawab atas validitas dan akurasi informasi yang ditulis masing-masing kompasianer.